My Portfolio Journal 2022 : Bertahan Ditengah Badai Ketidakpastian!
![]() |
Source : AFP | Gettyimages |
Tahun 2022 telah berlalu kita mulai memasuki masa endemi, namun sebelum itu terjadi dunia kembali dilanda masalah besar.
Rusia menginvasi Ukraina. Akibatnya
beberapa komoditas yang tadinya sudah mulai pulih pasca pandemic malah menjadi ‘mendidih’
akibat potensi meletusnya perang di Ukraina. Banyak negara terkena dampak
kenaikan harga komoditas yang sangat tinggi selama 2022 lalu, terutama benua
Eropa. Inflasi pun tidak terelakkan, bank sentral di seluruh dunia mulai
menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi. Dunia terancam akan mengalami
resesi kembali. Namun apa kabar
portofolio saya? Ditengah ketidakpastian perekonomian global dan potensi resesi yang katanya
didepan mata, bagaimanakan kinerja portfolio saya di tahun 2022 ini?
Secara NAB, kinerja portofolio saham saya dibanding IHSG
tahun ini sangat baik. Disaat IHSG menutup buku dengan +4,1%, portofolio saya
naik +21,8%. Kinerja yang sangat memuaskan ini disebabkan beberapa saham saya
yang posisinya cukup besar mengalami pergerakan yang positif dibandingkan
tahun lalu, bahkan ada yang bagger (kenaikan lebih dari 100%) dalam kurang dari setahun.
Portofolio saham saya sejak 2017 secara NAB menghasilkan return 76,82% (NAV : 1.768) sementara dibandingkan IHSG hanya menghasilkan return 29,49% (5.294 - 6.850). Momen krisis masa pandemi Covid-19 menjadi momen evaluasi dan ujian terberat saya sebagai investor yang berhasil saya lalui dengan cukup baik. Tercermin dari grafik diatas, bisa dilihat kenaikan performa portofolio yang mengalahkan IHSG dominan terjadi sejak tahun 2020. Tahun-tahun sebelumnya yang cenderung datar mencerminkan masa-masa awal belajar investasi ditambah saya tidak memiliki 'Begginers Luck'.
Adapun metode perhitungan kinerja portofolio secara Extended Internal Rate of Return (XIRR), sejak tahun 2017 portofolio saham Indonesia saya menghasilkan kinerja CAGR 15,58% p.a. Jika dibandingkan dengan IHSG yang hanya memang saya hanya 4,39% p.a.
Jika dilihat lebih detail sejak lima tahun terakhir portofolio saham saya dapat mengalahkan benchmark (IHSG) sebanyak empat kali (2018, 2019, 2020, dan 2022) dan tidak ada satu tahun pun yang mengalami return negatif.
Jumlah perusahaan dalam portofolio saham tahun 2022 lebih menyusut disbanding tahun sebelumnya dari 26 perusahaan menjadi 18 dikarenakan ada 9 saham yang keluar yaitu BBNI, BNGA, CARS, EKAD, ITMG, MARK, POWR, PZZA, dan SPTO sementara ada 1 saham baru yaitu ACES. Kedepannya saya masih berencana untuk mengurangi dan lebih mengkonsentrasikan ke beberapa saham utama saja.
Saham
Untuk tahun 2022 terdapat portofolio selain dari saham perusahaan Indonesia yaitu saham luar negeri. Portofolio ini saya mulai sejak bulan Mei 2022 dan terdiri atas saham perusahaan di Amerika Serikat (US). Alasan saya berinvestasi di perusahaan asing khususnya Amerika Serikat adalah perusahaan yang listing disana adalah perusahaan multi nasional yang mampu menjalankan bisnis mereka secara global sehingga walau kebanyakan perusahaan US sudah sangat besar namun ruang pertumbuhan mereka juga masih luas. Terlebih masa-masa ketidakpastian situasi ekonomi membuat harga saham wonderful company di US terkoreksi cukup dalam.
Selain itu alasan kedua adalah diversifikasi mata uang. Seperti kita ketahui mata uang rupiah selama ini dari tahun ketahun mengalami depresiasi terhadap mata usang US Dolar. Dengan berinvestasi pada saham US maka saya juga melakukan lindung nilai terhadap pelemahan rupiah jika terjadi dimasa depan.
Saya memakai broker asal Singapura bernama Tiger Broker. Saya memilih Tiger Broker karena beberapa alasan seperti yang dituliskan oleh upliner saya diartikel ini (Tiger Brokers : Mulai Investasi Saham Luar Negeri, Axlarry.com) , silahkan dibaca ya!
Reksadana
Porsi portofolio reksadana pada awal dan akhir tahun 2022 cukup stabil di kisaran 5-6%an. Sempat terakumulasi sampai 12% dari portofolio tapi tidak lama saya alokasikan kembali untuk investasi saham luar negeri. Imbal hasil dari reksadana selama 2022 berkisar 3-6%
Portofolio Reksadana, terdiri atas 40% reksadana pasar uang, 50% reksadana pendapatan tetap, dan 10% reksadana indeks saham Sri Kehati. Fungsi utama portofolio reksadana adalah sebagai penyeimbang risiko dari portofolio saham sekaligus tempat 'penampungan' dana idle investasi yang masih tergolong likuid. Imbal hasil dari reksadana juga cukup menarik dikisaran 4-6% sehingga hemat saya lebih optimal jika dana idle ditempatkan di reksadana dibandingkan dibiarkan dalam bentuk cash.
Surat Utang/Obligasi
Portofolio Surat Utang/Obligasi hanya terdiri atas ORI017 dengan kupon sebesar 6,4% yang sudah dimiliki sejak Mei 2021. Saya berencana memegang surat berharga negara ini sampai jatuh tempo. Akhir tahun 2022 porsi obligasi memang hanya 9% namun melihat pergerakan suku bunga yang masih akan meningkat kedepannya menambah porsi obligasi mungkin akan saya lakukan jika menemukan Obligasi ritel negara yang kuponnya lebih tinggi dari ORI017.
P2P Lending
Pada Portofolio P2P Lending, tahun 2022 ini saya berhasil merampingkan portofolio menjadi hanya di 2 platform saja yaitu Akseleran dan Modal Rakyat (Mora). Namun menjelang akhir tahun 2022, Mora meningkatkan nilai pendanaan miminumnya yang membuat saya kehilangan alasan untuk menggunakan Mora. Oleh sebab itu di tahun 2023 saya akan fokuskan dana portofolio P2P lending hanya ke Akseleran.
Untuk investasi di Akseleran sejauh ini masih sangat lancar. Memang suku bunga pinjaman semakin rendah, namun tingkat gagal bayar juga sangat rendah. Saat saya menulis tulisan ini, Akseleran memiliki TKB90 sebesar 99,45% dan angka tersebut juga saya rasakan dalam portofolio saya karena jumlah pinjaman yang macet/tidak tertagih sejak membuka akun sampai saat ini sangatlah kecil yakni dibawah 1%.
Lain-lain
Porsi investasi ini mengalami penurunan drastis dibandingkan 2021. Penyebabnya karena adanya write off terhadap investasi yang berisiko tinggi. Memang nilainya tidak begitu besar dibandingkan keseluruhan portofolio tetapi cukup memberatkan kinerja investasi dalam tahun ini. Kesalahan investasi ini mengajarkan saya jangan pernah sekali-sekali menaruh investasi pada instrumen yang sulit dimengerti.
Sebagai gantinya, sejak 2022 akhir saya mulai membuka porsi investasi di deposito, alasannya karena suku bunga mulai bergerak naik dan sepertinya instrumen yang terdampak positif dan relatif lebih cepat menyesuaikan peningkatan imbal hasil adalah deposito. Saya berinvestasi di deposito Seabank yang pada saat saya mulai membuka deposito sedang dalam masa promo. Bunga yang saya peroleh berskisar 6-7% tergantung lama jatuh tempo. Memang tergolong tinggi untuk deposito namun setidaknya Seabank adalah salah satu bank digital yang kinerjanya cukup baik, sudah mulai menghasilkan laba, ditambah backing parent company mereka, SEA Limited yang listing di Singapura.
Reviu Kinerja
Secara Extended Internal Rate of Return (XIRR) kinerja keseluruhan aset investasi yang saya kelola dari 2020 sampai 2022 cukup memuaskan dengan mencatatkan kinerja CAGR 15,74% dengan tiap tahunnya mengalahkan kinerja IHSG dengan margin yang cukup jauh. Memang ditahun 2022 terjadi penurunan return yang signifikan dikarenakan kombinasi situasi pasar dan kesalahan investasi yang saya jelaskan diatas sebelumnya.
Secara perhitungan NAB, kinerja TAM selama 3 tahun terakhir bertumbuh masing-masing di tahun 2020, 2021 dan 2023 sebesar 16,2%, 21,7%, dan 6,6% sehingga menghasilkan compounding return sebesar 50,7%.
Kesimpulan
Walaupun situasi global kian suram, awan resesi ekonomi global diberitakan dimana-mana, saya tetap berinvestasi. Justru ditengah ketidakpastian ini banyak kesempatan yang mungkin belum tentu datang dua kali dalam satu dekade. Misalnya saya mulai investasi disaham-saham US saat terjadi koreksi lebih dari 30% sejak all time high (ATH).
Selama 6 tahun di pasar modal, hasil investasi selama ini mulai terasa cukup signifikan. Efek bola salju itu memang benar-benar saya rasakan. Jika kita terus belajar dan konsisten mendapatkan return yang cukup baik, maka dalam jangka panjang hasilnya akan memuaskan. Tidak perlu mencari return ratusan persen atau bagger dalam waktu singkat apalagi sampai terpapar risiko permanent loss yang sangat tinggi.
Pada akhirnya terus belajar dan tetaplah waras!
Demikianlah ulasan portofolio saya di tahun 2022 lalu. Mohon maaf baru sempat menyelesaikan tulisan ini di bulan maret. Semoga bermanfaat bagi teman-teman.
Disclaimer : Segala emiten yang termuat dalam artikel ini baik secara tersirat maupun tidak tersirat bukanlah rekomendasi untuk membeli. Saya tidak berhak merekomendasikan siapapun untuk melakukan jual beli saham dan juga tidak bertanggung jawab atas konsekuensinya. Tetaplah lakukan PR anda terlebih dahulu!
Post a Comment